Penulis : Muhdar Adam
Pendiri dJAMAN Maluku Utara
Dari ufuk timur Jazirah Al-Mulk, ketika matahari akan kembali menjemput laut dengan cahaya keemasannya. Pagi, 12 April 2026, Tidore kembali merayakan HJT ke-918 tahun, usia yang tak sekadar hitungan waktu, niscaya adalah lapisan sejarah yang berdenyut dalam nadi bangsa. Kelak, perayaan itu tidak hanya akan menjadi seremoni. Ia menjelma menjadi ruang ingatan kolektif, tempat generasi hari ini berdiri untuk memandang jauh ke belakang, pada masa ketika Tidore menjelma sebagai simpul peradaban, pusat rempah, koordinat perjumpaan dunia. Dari tanah ini, aroma cengkeh pernah menggerakkan kapal-kapal besar melintasi samudera, mengundang bangsa-bangsa asing datang, dan sekaligus menguji keteguhan harga diri.
Di jalur angin, juga pusaran arus laut yang tak pernah benar-benar diam, Tidore akan terus dikenang sebagai titik temu peradaban. Para pelaut akan membaca bintang, para pedagang akan menakar nilai, dan para pemimpin akan menimbang arah masa depan dari tanah yang sama, tanah yang mengajarkan bahwa kejayaan lahir dari keberanian membuka diri, tanpa kehilangan jati diri. Di sinilah, sejarah tidak sekadar ditulis, tetapi dinegosiasikan, dipertahankan, dan diwariskan dalam bentuk yang hidup.
Tidore akan kembali dibaca sebagai rumah bagi para pemimpin yang melampaui zamannya. Nama-nama besar akan terus hidup dalam narasi bangsa, mereka yang tidak hanya menjaga kedaulatan tanahnya, tetapi juga menyalakan api perlawanan terhadap kolonialisme. Dari sini pula, kontribusi terhadap lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak akan pernah pudar; sebuah warisan tentang keberanian, diplomasi, dan kesetiaan pada cita-cita kemerdekaan. Jejak itu, kelak dibaca oleh generasi muda, tak sekedar sebagai kisah heroisme, melainkan sebagai energi yang terus menyala. Mereka akan menemukan bahwa sejarah Tidore bukan hanya tentang peperangan atau kekuasaan, tetapi tentang kecerdasan membaca zaman, tentang kemampuan merawat keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan. Bahwa di balik setiap peristiwa besar, selalu ada nilai-nilai yang menjaga arah, agar tak kehilangan makna.
Kiranya bersama kita sadar, masa depan tidak akan dibangun hanya dengan romantisme sejarah. Di usia ke-918 ini, Tidore akan ditantang untuk menafsirkan ulang kejayaannya. Kaum mudanya akan menjadi aktor utama, mereka yang tidak sekadar mewarisi cerita, tetapi juga menciptakan babak baru. Mereka akan berdiri di antara dua kekuatan; modernitas yang bergerak cepat, juga “dodia gosimo” warisan yang tak sekedar dijaga, diejawantahkan dalam pola laku dan sikap nyata. Dalam lanskap dunia yang terus berubah, generasi muda Tidore akan berhadapan dengan pilihan juga dilema yang tak mudah. Teknologi akan membuka kemungkinan tanpa batas, juga risiko kehilangan identitas. Mobilitas akan memperluas cakrawala, tetapi juga berpotensi menjauhkan mereka dari akar toma loa se banari. Pada titik inilah, pertanyaan mendasar akan muncul; bagaimana menjadi modern tanpa tercerabut dari sejarah?
Pada kekiniaan kita, nilai kultur yang telah lebih lama dari 918 tahun, akan menemukan relevansinya. Kearifan lokal, gotong royong, penghormatan terhadap alam, serta etika dalam relasi sosial akan menjadi fondasi yang tak tergantikan. Generasi Tidore pada akhirnya harus menyadari, bahwa kemajuan tanpa nilai luhur hanyalah kegamangan, tradisi tanpa kecakapan pengetahuan dan literasi akan berakhir sebagai kenangan.
Nilai-nilai tidak dihadirkan sebagai doktrin yang kaku, melainkan sebagai praktik hidup sehari-hari, dalam cara bersikap, bekerja, dan mengambil keputusan. Pada cara memperlakukan laut dan hutan sebagai sumber kehidupan, bukan sekadar ruang eksploitasi. Dalam cara melihat perbedaan sebagai kekuatan, bukan ancaman. Pada titik inilah kultur akan hidup; bukan sebagai simbol, tetapi sebagai kompas. Kiranya dimasa yang akan datang, perayaan hari jadi Tidore tidak sekadar mengenang masa lalu, melainkan menegaskan arah masa depan sebagai Common Dreams. Terlahir kembali panggilan; bahwa kejayaan tidak diwariskan, tetapi diperjuangkan kembali, dengan cara yang berbeda, pada zaman yang berbeda, senantiasa untuk kemaslahatan publik.
Perayaan itu akan menjadi momentum refleksi dan konsolidasi, menyatukan ingatan kolektif dengan harapan bersama, meneguhkan kesadaran bahwa masa depan Tidore tidak ditentukan oleh satu generasi saja, melainkan oleh kesinambungan nilai yang dijaga lintas waktu. Bahwa setiap langkah kecil hari ini akan menjadi bagian dari sejarah panjang yang kelak akan diceritakan kembali. Dan ketika gema perayaan itu sampai ke telinga anak-anak muda di setiap sudut pulau, mereka akan mengerti: bahwa menjadi bagian dari Tidore berarti memikul sejarah, sekaligus menulis masa depan. Sebab di tanah ini, waktu tidak pernah benar-benar pergi, ia adalah jejak pada persimpangan, yang menunggu untuk diterus diwariskan.
Akhirnya akan tiba pada suatu masa, mereka akan berdiri di titik yang sama, memandang laut yang sama, merasakan angin yang sama, namun dengan tanggung jawab yang lebih besar. Mereka akan menjadi penjaga, pencipta, pewaris sekaligus pembaru. Kelak dari tangan merekalah, Tidore akan terus hidup; tidak sekedar sebagai kenangan masa lalu, tetapi sebagai harapan yang selalu menemukan jalannya menuju masa depan. Semoga.!








