TIDORE – Pemerintah Kota Tidore Kepulauan bergerak cepat menyikapi dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan menggelar pertemuan lintas sektor yang dipimpin Sekretaris Daerah Kota Tidore Kepulauan, Ismail Dukomalamo, di Ruang Rapat Wali Kota, Kamis (11/6/2026).
Pertemuan tersebut dihadiri Kapolresta Tidore, para Asisten Sekda, Staf Ahli Wali Kota, pimpinan OPD terkait, Ketua Organda Tidore, para motoris, serta perwakilan sopir angkutan umum.
Dalam arahannya, Ismail Dukomalamo menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus mengambil langkah strategis guna mengurangi dampak kenaikan BBM terhadap masyarakat dan sektor transportasi.
Menurutnya, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara kepentingan masyarakat sebagai pengguna jasa dan pelaku usaha transportasi sebagai penyedia layanan agar pelayanan publik tetap berjalan dengan baik.
Selain itu, Pemkot Tidore juga mendorong Dinas Perhubungan, Organda, dan Disperindagkop untuk melakukan pendampingan penggunaan barcode BBM subsidi agar seluruh angkutan umum dapat memanfaatkan program subsidi yang direncanakan mulai berlaku pada Juli 2026.
Sementara itu, Kapolresta Tidore, Kombes Pol Ampi Mesias, menyatakan pihak kepolisian siap mengawal distribusi BBM agar berjalan aman, tertib, dan sesuai ketentuan yang berlaku guna mencegah gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Direktur PT Rusda, Awat Ahmad, memastikan pelayanan di SPBU akan dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Ia menyebut Kota Tidore direncanakan menerima kuota BBM subsidi sebesar 100 ton Pertalite dan 60 ton Solar per bulan mulai Juli mendatang.
Awat juga menjelaskan bahwa sejak 11 Juni 2026, SPBU telah melayani penyaluran Pertamax, Dexlite, dan minyak tanah dengan stok masing-masing 71 ton, 20 ton, dan 100 ton yang akan terus dipasok secara berkala setiap minggu.
Dalam rapat tersebut, Ketua Organda Kota Tidore, Husain Alting, meminta pemerintah daerah menetapkan tarif sementara angkutan umum hingga BBM subsidi mulai tersedia. Ia juga meminta pengawasan penyaluran BBM subsidi diperketat serta mengaktifkan kembali penggunaan barcode untuk pembelian BBM.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Kota Tidore Kepulauan, Marsaid Idris, menyampaikan bahwa tarif sementara angkutan umum akan disesuaikan dengan kenaikan harga BBM.
Tarif angkot ditetapkan naik menjadi Rp4.000 per penumpang. Untuk trayek Soasio–Rum yang sebelumnya Rp20.000 naik menjadi Rp24.000. Sementara tarif bentor naik dari Rp7.000 menjadi Rp10.000. Adapun tarif bagi pelajar tetap tidak mengalami perubahan.
Meski demikian, tarif angkutan laut pada rute Rum–Bastiong, Tidore–Loleo, maupun sebaliknya disepakati belum mengalami kenaikan.
Keputusan tarif sementara tersebut akan berlaku hingga pemberlakuan BBM subsidi pada Juli 2026, dan selanjutnya akan dievaluasi kembali melalui rapat bersama pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan. (Red)








